_

_
Balapan Selanjutnya, Gran Premi Monster Energy de Catalunya. 17 Juni 2018

Thursday, 19 May 2016

Formula 1 dan Teknologi Terlarang

Mesin-mesin yang digunakan Formula1 2016
 
Oleh: Roy Daroyni
(An Engineer, an F1 Technical Writer, an F1 TV Commentator)

Mobil Formula1 (F1) modern mampu melesat 100 kpj dari kondisi diam sekitar 1,7 detik. Satu kemampuan luar biasa yang belum bisa disamai oleh mobil sport jenis apapun.
Ternyata tidak semua teknologi pada mobil F1 merupakan yang tercanggih di dunia otomotif. Beberapa sistem dan komponen mobil F1 justru kalah canggih dibanding mobil biasa di jalanan. Mengapa demikian?

Jawabannya adalah regulasi. Federation Internationale de l'Automobile (FIA) sebagai ”wasit” bagi balapan F1 rajin membuat regulasi untuk membatasi kecepatan mobil F1. Selain menyangkut keselamatan pebalap, pembatasan kecepatan juga terkait dengan alasan non teknis. Contohnya seperti membuat balapan lebih menarik ditonton.

Menilik sejarah, perubahan regulasi FIA dilakukan hampir tiap tahun. Langkah tersebut dilaksanakan karena kemajuan teknologi ternyata jauh lebih pesat dari pembatasan yang diberlakukan. Berikut beberapa teknologi inovatif yang pernah dimanfaatkan oleh mobil F1 namun kemudian ”diharamkan”.

 Lotus T56B, mobil F1 bermesin turbin pertama dan terakhir

Turbin gas

Turbin gas digunakan sebagai penggerak menggantikan motor bakar torak. Sebagai salah satu jenis penggerak tertua, motor bakar punya banyak kelemahan. Apalagi dibandingkan turbin gas yang lebih ditemukan belakangan. Turbin gas menghasilkan power lebih tinggi dengan bobot yang lebih ringan. Bisa dikatakan turbin gas punya power-to-weight ratio yang lebih baik.
 
Kelebihan lainnya adalah putaran sangat cepat, sampai 60.000 rpm. Bandingkan dengan mesin F1 modern yang ”hanya” mampu berputar sekitar 20.000 rpm (dan musim ini dibatasi oleh FIA menjadi maksimum 15.000 rpm saja). Turbin gas tergolong minim getaran karena tidak ada komponen yang bergerak translasi (maju-mundur) seperti halnya motor bakar.

Secara umum umur turbin gas lebih panjang daripada motor bakar. FIA melarang penggunaan turbin ini setelah Tim Lotus mengujicobakan T56B yang mengadopsi turbin gas merk Pratt & Whitney pada 1971.

Larangan FIA ini sebetulnya ”mubazir” karena Tim Lotus membuktikan bahwa penggunaan turbin gas sebagai penggerak mobil ini sebenarnya tidak cocok untuk F1. Kelemahan yang dirasakan antara lain adalah turbin gas lambat merespon perubahan bukaan gas dari kaki pebalap. Alhasil sulit melahap chicane serta tidak adanya efek engine-brake yang sangat dibutuhkan mobil F1.

CVT

Continously Variable Transmision (CVT) adalah peranti pengganti gearbox yang memungkinkan mesin beroperasi pada RPM-band yang sempit. Efeknya torsi maksimum bisa terus dipertahankan. Williams adalah tim yang pertama kali mencoba mengembangkan teknologi ini sejak akhir 1970-an.

Bahkan sempat diujicobakan pada FW-15 yang bermesin Renault pada 1993. Namun langkah tersebut akhirnya hanya sebatas ujicoba, sebab di akhir 1993 FIA melarang penggunaannya untuk lomba.


 Kipas

Penggunaan fan (kipas) di belakang mobil untuk menghasilkan extra-downforce juga dilarang FIA. Alat ini sempat digunakan oleh tim Brabham dan Niki Lauda membuatnya menjuarai GP Swedia di tahun 1978.

Side skirt

Side skirt atau sliding skirt adalah peranti berbentuk - mirip - rok dan dipasang di sisi kiri dan kanan bodi mobil bagian bawah. Alat ini berguna untuk mencegah aliran angin di kolong mobil mengalir ke samping, sehingga ground-effect dari kolong mobil bisa dimaksimalkan.

Pada 1980 FIA melarang side skirt dengan cara membatasi ground clearance menjadi minimum 6 cm. Akibatnya side skirt tidak mungkin digunakan lagi karena jarak antara komponen tersebut dengan aspal tidak bisa dijaga. Apalagi gerakan suspensi yang menyebabkan bodi mobil bergerak naik-turun.

Kendati demikian, para insinyur F1 tidak berhenti berimprovisasi. Pada 1988, mobil T88 dari Tim Lotus memperkenalkan desain twin-chassis atau sasis ganda. Sasis pertama mempunyai suspensi yang amat keras terhadap roda. Sedangkan sasis kedua mempunyai suspensi yang lebih lunak terhadap sasis pertama.

Sasis pertama punya suspensi yang amat keras terhadap roda, maka jaraknya terhadap aspal bisa dijaga. Startegi dengan membuat sasis pertama mirip pelat yang mengelilingi sasis kedua, maka sasis pertama bisa berfungsi sebagai ”side skirt” tanpa melanggar aturan ground-clearance minimum 6 cm itu. Namun demikian, twin-chassis ini akhirnya pun dilarang FIA.

Peredam kejut

Suspensi aktif adalah ”peranti ajaib” yang membantu Williams mendominasi musim balap 1992 dengan Nigel Mansell dan FW14B-nya. Suspensi aktif membuat peredam kejut mampu mengatur kekerasan

peredamannya agar sesuai dengan kondisi jalan yang dilalui. Efeknya, keempat ban akan selalu mempunyai daya cengkram maksimum walaupun sedang melaju di trek bergelombang dan banyak tikungan lambat. Peranti ini dilarang FIA pada musim 1993.

 Salah satu six wheeled car, Tyrrel P34 pada musim 1976

Enam roda

Four-wheel-drive dan six-wheelers (mobil enam roda) adalah usaha untuk membagi torsi (baik pengeraman ataupun akselerasi) kepada lebih banyak roda. Hasil pembagian torsi tersebut, maka daya cengkram ban akan meningkat. Tujuannya akselerasi yang lebih baik serta pengereman lebih pakem.

Four-wheel-drive pernah digunakan pada mobil BRM di awal 60-an. Sedangkan mobil enam roda pernah dipakai Tyrell pada 1977 dan Williams 1981. Baik four-wheel-drive maupun six-wheelers dilarang FIA di 1983.

Perkembangan teknologi memang menjadi daya tarik utama balapan F1. Regulasi FIA yang makin ketat justru menambah daya tarik itu. Sebab bisa dipastikan teknologi-teknologi baru akan bermunculan dan tiap tahun kita tetap melihat mobil F1 yang selalu makin kencang